Bantu Usaha Budidaya Lobster, Dislutkan Loteng Bakal Keluarkan Ini

Kepala Dislutkan Loteng Ir. Muhammad Kamrin.

LOMBOK TENGAH,Tatrapost.com Setelah pemerintah pusat melalui Kementerian Kelauatan dan Perikanan (KKP) melarang ekspor benur atau benih lobster ke luar negeri. Nelayan benur lobster diminta untuk melakukan usaha budidaya. Itu dilakukan untuk memperkuat pergerakan ekonomi nelayan dalam negeri.

Untuk mendukung terobosan itu, KKP hingga Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) kabupaten terus memperkuat para pembudidaya dari segi legalitas usahanya. Termasuk legalitas dari kalangan pembudidaya kecil yang ada di pesisir-pesisir. Demikian halnya juga dilakukan oleh Dislutkan Loteng. Caranya dengan menerbitkan Surat Tanda Daftar Kegiatan Budidaya Skala Kecil. Surat tanda daftar tersebut sebagai pengganti izin budidaya.

“Surat tanda daftar kegiatan budidaya ini diatur dalam Permen KKP. Bahwa pembudidaya skala kecil itu legalitasnya cukup dengan surat tanda daftar pembudidaya,” tutur Kepala Dislutkan Loteng, M Kamrin kepada media di ruangannya belum lama ini.

Dikatakan Kamrin, bahwa legalitas tersebut akan mulai diterbitkan dan diproses tahun ini. Ini sebagai tindaklanjut dari perintah KKP secara umum. Dimana, pada prinsipnya semua jenis usaha kelautan itu harus ada keterangan usahanya. Selain itu, kebijakan tersebut juga untuk mempermudah  usaha budidaya para nelayan benur lobster di Loteng. Hanya saja, sebelum surat itu dikeluarkan, ia meminta agar keberadaan masing-masing kelompok budidaya melaporkan diri ke dinas.

“Setelah data-data nama kelompoknya ada, baru kami dari dinas melakukan survey ke bawah. Melihat apakah kelompok itu punya sarana dan prasarana pendukung budidaya. Apakah ada Keramba Jaring Apungnya (KJA), berapa jumlahnya, dimana tempat titik koordinatnya, berapa anggota kelompoknya, rencana usahanya bagaimana dan lainnya,” ungkap Kamrin.

Batasan yang disebut budidaya kecil kata dia, juga jelas. Jika nelayan selama ini hanya menangkap benur di lokasi yang sama atau dekat dengan tempat budidaya, itu tanpa Surat Keterangan Asal Benih (SKAB).

“Nelayan kita yang ada di Teluk Awang, Gerupuk, Selong Belanak dan lainnya ini kan begitu model budidayanya, dekat dengan lokasi mencari benur,” jelasnya.

Lebih jauh disampaikan, secara teknis para nelayan benur lobster di Loteng kini sudah paham bagaimana membudidaya lobster. Baik bagaimana mereka mensuplay pakan, ketekunan merawat dan tehnik lainnya. Karena sejak menggeluti nelayan lobster, mereka sudah paham skill budidaya. Hanya saja, untuk pendampingan Dislutkan akan tetap lakukan pengawasan, pembinaan dan pemberdayaan kepada mereka.

“Dulu sekitar 6.000 orang nelayan penangkap lobster kita di Lombok Tengah, kalau kelompok budidayanya kita belum kita tahu pasti,” pungkas Kamrin. (TP-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *