Kamtibmas

Bentrok Berdarah di Landah Dinilai Buntut Leletnya Penanganan Kasus di Polres Lombok Tengah

Dedi Afriadi Zulkarnaen dan Kapolres Loteng AKBP Esty Setyo Nugroho

PRAYA,Tatrapost.com Penanganan kasus di Polres Lombok Tengah (Loteng) kali ini kembali dipertanyakan dan menjadi sorotan publik. Dinilai karena lamban bersikap atas salah satu laporan, berbuntut adanya penyerangan yang mengakibatkan korban luka-luka hingga dibawa ke Puskesmas terdekat pada Selasa malam (13/4) sekitar pukul 20.00 Wita di Dusun Mengkudu, Desa Landah, Kecamatan Praya Timur.

Bentrokan berdarah tersebut dinilai terjadi karena lambannya Polres Loteng menanggapi laporan dugaan penggeregahan lahan yang dilayangkan Dedi Afriadi  Zulkarnaen dan keluarga empat bulan lalu. Dengan terduga pelaku tak lain merupakan keluarga dekatnya sendiri. Terhadap lambannya kasus ini, Dedi AZ sapaan akrab mantan Presiden Mahasiswa (Presma) IKIP Mataram ini pun berulang kali mendesak dan menanyakan perkembangan kasus tersebut ke Polres dengan harapan ada kepastian hukum dan menghindari terjadinya konflik berdarah seperti kemarin malam. Namun pihak Polres masih saja lamban.

“Kami sudah mengingatkan tentang potensi bentrok ini berkali-kali, bahkan secara pribadi saya dua kali menemui Kasatreskrim Lombok Tengah untuk menceritakan segala bentuk intimidasi dan provokasi yang terus-menerus dilakukan oleh para pelaku ini, tapi Polres tak bergeming. Kami juga heran, kenapa tidak ada langkah-langkah konkrit yang bersifat preventif dilakukan oleh Polres terhadap kasus yang kami laporkan ini,” ungkap Dedi.

Diceritakan Dedi bahwa, bentrokan tadi malam itu bermula saat pelaku atas nama Kemban mengendarai sepeda motor RX King bolak balik di jalan antara rumah korban pertama dan kedua sembari membawa senjata tajam yang siap digunakan untuk perang. Kemban ini kata dia, menantang keluarganya dan warga lain untuk keluar rumah dengan cara merusak gerbang. Begitu para korban keluar rumah, tiba-tiba semua pelaku (keluarga Kemban Cs, Red)  berdatangan ramai-ramai menyerang para korban dengan senjata tajam.

Dedi Apriadi Zulkarnaen (pakai topi, Red) saat bertemu dengan Kapolda NTB Irjen Pol. Moh. Iqbal, Rabu (14/4).

“Kemban ini sengaja begitu untuk memancing emosi massa, supaya keluar rumah makanya terjadilah benturan fisik yang menyebabkan korban luka-luka dari kedua belah pihak. Tapi pihak penyerang justru lebih banyak yang terluka,” tuturnya.

Lebih jauh disampaikan aktivis KAMMI ini bahwa, terhadap aksi penyerangan tersebut, pihaknya mengaku sangat kecewa dengan lambannya segala proses administrasi yang ada di Polres. Seharusnya ada langkah pasal darurat yang diambil. Bahkan, mirisnya, sampai hari ini pelaku atas nama Kemban setelah penyerangan itu terjadi masih tidak tersentuh hukum dan masih berkeliaran bebas.

“Kami hanya minta hukum dikembalikan ke porsinya menjadi panglima tertinggi untuk rasa keadilan dan keamanan masyarakat,” harapnya.

Selaku aparat penegak hukum, Polres Loteng seharusnya tidak membiarkan masyarakat mencari jalan hukum sendiri karena tidak adanya jaminan keamanan hidupnya oleh kepolisian. Namun demikian, kondisi itu tidak terjadi di Polres Loteng. Makanya pihaknya hari ini menghadap ke Kapolda NTB untuk mendesak agar laporan yang pihaknya layangkan dan kasus penyerangan tadi malam diberikan atensi khusus. Agar bentrokan-bentrokan lain tidak lagi terjadi di kemudian hari.

“Sebenarnya kami tidak akan melibatkan Polda kalau seandainya Kapolres lebih sigap dan cermat,” sesalnya.

Sementara itu, Kapolres Loteng AKBP Esty Setyo Nugroho melalui rilis yang diterima media ini menjelaskan, bahwa bentrok dua kelompok keluarga di Desa Landah Selasa (14/4) malam itu terjadi lantaran masalah sengketa lahan. Ia pun membantah bahwa kejadian  itu bukan penyerangan atau perang kampung. Itu murni masalah sengketa lahan karena kedua belah pihak masih ada hubungan keluarga.

Dijelaskan, bahwa kejadian bermula saat salah satu pelaku inisial AW alias KH yang berada dari pihak selatan sebelum kejadian melakukan kebut-kebutan menggunakan sepeda motor sambil teriak-teriak. Hal tersebut sontak memancing pihak utara (keluarga Dedi Cs, Red) untuk keluar. Setelah pihak utara keluar ke jalan, pihak keluarga AW atau KH yang dari selatan merespons balik dan keluar sambil membawa senjata tajam dan melakukan pelemparan ke arah rumah pihak keluarga utara (Dedi Cs, Red).

“Akibat kejadian itu, sekitar 10 orang dari pihak selatan maupun utara yang menjadi korban dan mengalami luka-luka ringan,” ujarnya.

Mengetahui peristiwa itu, personel dari Polres dan Polsek melakukan pengamanan di sekitar lokasi serta melakukan upaya penggalangan bersama tokoh masyarakat terhadap kedua belah pihak.

“Kita lakukan pendekatan bersama tokoh-tokoh terhadap kedua belah pihak, untuk mengantisipasi konflik yang berkelanjutan,” jelasnya.

Kapolres melanjutkan, terkait perkara sengketa lahan yaitu laporan pengerusakan atau penggeregahan yang dilaporkan oleh salah satu pihak, Polres Loteng sendiri sudah melakukan proses terhadap laporan tersebut bahkan saat ini dalam proses penetapan tersangka.

“Karena masih ada hubungan keluarga, kita pernah beberapa kali melakukan upaya perdamaian antara keduanya, namun sampai saat ini belum ada titik temu,” lanjut Esty.

Sebelumnya, Selasa 13/4) malam saat kejadian bentrok tersebut, Kapolsek Pratim IPTU Dami juga mengaku pihaknya langsung turun ke lokasi ketika menerima laporan adanya dua kelompok keluarga yang terlibat bentrok di Dusun Mengkudu Desa Landah. Bagi para warga yang teluka dibawa ke Puskesmas terdekat. Sehingga pada pukul 01.00 Wita dini hari, kondisi lokasi bentrok aman dan kondusif. Sedangkan para terduga pelaku sudah ditangani Polres.

“Enggih tiang masih di lokasi dek, untuk terduga pelaku penyerangan sudah ditangani Polres,” ungkap Kapolsek Pratim, IPTU Dami saat dikonfirmasi terpisah di malam kejadian, Selasa (13/4) malam kemarin. (TP-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *