Ekonomi & Bisnis

Bisnisnya Go Internasional, Buntaran Siapkan 25 Hektare Lahan Jadi Kampung Walet

Jajaran Ading Walet Grup bersama para pemerhati lingkungan dan Kepala Kesbangpoldagri NTB Lalu Abdul Wahid bernostalgia bersama di Desa Kateng, Ahad (4/4).

LOMBOK TENGAH—Meningkatnya jumlah pesanan atau ekspor sarang burung walet, membuat Ading Walet Grup, terus lakukan pembenahan. Tahun ini Ading Walet Grup sudah mempersiapkan 25 hektare lahan sebagai lokasi budidaya sarang walet. Khususnya di Desa Kateng, Kecamatan Praya Barat (Prabar) Lombok Tengah (Loteng).

Pemilik PT Ading Walet Grup, Lalu Buntaran di kediamannya mengatakan, jumlah pesanan ekspor sarang walet setiap tahun meningkat. Untuk tahun 2021 ini, sudah tembus di sejumlah negara maju. Seperti Cina, Arab Saudi, Taiwan, Jepang, Tiangkok dan sejumlah negara lainnya. Selain di negara maju di sekitar benua Asia, ekspor sarang burung walet juga sudah mulai di pesan di Benua Eropa. Sehingga hal ini membutuhkan stok sarang walet lebih besar.

“Ekspor sarang walet kita semakin meningkat, makanya tahun ini kita sudah siapkan 25 hektare lahan unruk Budidaya sarang walet, sebagai bentuk menjawab tuntutan dipasaran,” katanya di kediamanya, Ahad (04/04) kemarin.

Dari 25 hektare tersebut, pihaknya sudah mempersiapkan di tiga titik di sekitar Desa Kateng. 9 hektare diantaranya, sudah di desain sebagai lokasi kampung wisata walet, juga masih di sekitar Desa Kateng.

Owner Ading Walet Group, Lalu Buntaran menunjukkan hasil budidaya sarang walet di kediamannya di Desa Kateng.

“Dari 25 hektare kita sudah siapkan di 3 titik, 9 diantaranya kita akan desain sebagai wisata kampung walet ala Ading Walet Grup,” terangnya.

Ketua Asosiasi ekspor NTB ini menambahkan, membudidayakan bisnis sarang burung walet memiliki manfaat dan penghasilan cukup menjanjikan. Di samping untuk kesehatan diri, juga mendatangkan keuntungan fantastis. Sehingga pihaknya menilai bisnis burung walet adalah harta karun yang terkubur dan ada di Desa Kateng.

“Dalam waktu tidak lama, manfaatnya sudah kami nikmati dan sudah menampung 70 tenaga kerja, makanya bisnis ini saya menilai harta Karun yang tertimbun,” paparnya.

Selain itu, hasil dari bisnis ini pihaknya sudah bisa mendirikan Ponpes Tahfiz dan sudah menyumbangkan untuk pembangunan masjid.

“Sekali tiga bulan kita panen, dan santunan untuk para hafiz kita lakukan sekali tiga bulan, disesuaikan dengan panen sarang burung walet,” terangnya.

Ia menambahkan, mengembangkan bisnis ini, pihaknya juga telah membuat visi yakni “Asepku” yang memiliki arti Agama Sosial Ekonomi Pendidikan Kesehatan Untuk Umat.

Dijelaskan, Agama terdiri dari pengobatan secara herbal untuk kesehatan. Untuk pendidikan bisa mendirikan Ponpes Tahfiz, serta hasilnya disumbangkan untuk pembangunan masjid. Sedangkan dari sisi Sosialnya, pihaknya sudah bisa merekrut tenaga kerja dan meningkatkan ekonomi mereka. “Asepku adalah visi kami kembangkan bisnis ini, menuju go internasional,” cetusnya.

Ditempat yang sama, pemerhati lingkungan NTB Windia Adyana mengaku, pengembangan sarang burung walet di Desa Kateng ini sangat tepat. Di samping radius mendukung, di sekitarnya juga banyak ditumbuhi pohon hijau dan ini membuat walet tetap betah.

“Lokasinya mendukung dan saya yakin burung walet akan betah,” katanya.

Dikatakan, ada beberapa hal yang sangat disukai burung walet. Diantaranya suka yang hijau-hijau dan radius laut minimal 10 kilometer, termasuk di lokasi ini. Kenapa walet suka yang hijau lanjutnya, tempat yang hijau disukai lalat dan serangga dan dua mahluk ini makanan pokok walet. Dan walet juga suka terbang di atas laut lepas.

Kendati demikian lanjutnya, membudidayakan burung walet menurutnya, sangat berisiko berat kendati dua faktor tersebut ada. Sebab walet sukanya berpindah pindah dan walet di dunia terbesar di sekitar Benua Afrika.

“Sangat beresiko memang bisnis walet ini tapi ada caranya biar betah,” pungkasnya. (TP-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *