Didesak Masyarakat, Kades Gemel Lapor Dugaan Penggelapan Aset Desa ke Polisi

Kades Gemel Muhammad Ramli saat menyerahkan berkas laporan ke SPKT Polres Loteng, Senin (16/9/2022) kemarin

LOMBOK TENGAH (NTB),Tatrapost.comKepala Desa Gemel, Kecamatan Jonggat, Muhammad Ramli melaporkan kasus dugaan penggelapan aset desanya ke Polres Loteng, Senin (26/9/2022) kemarin. Laporan tersebut diterima langsung oleh Kanit I SPKT Polres Loteng, IPTU Supardi.

Diketahui, langkah melapor itu diambil Kades dalam rangka memenuhi desakan masyarakat soal kasus yang terus dimintai kejelasan. Yakni soal hilangnya 9 alat bordir milik Desa Gemel beberapa waktu lalu. 

Memuncaknya ke permukaan kasus dugaan penggelapan aset Desa Gemel berupa mesin bordir yang entah dimana keberadaannya saat ini, mulai menemukan titik terang. Dimana, dimulai dengan melaporkan hal tersebut ke Polres Loteng sebagai langkah awal mengembalikan aset desa sebagai barang yang dibeli dari uang negara yang terus dimintai pertanggung jawaban oleh masyarakat luas.

Dalam hal ini, Kades Gemel melayangkan laporan agar aset tersebut segera diusut oleh Aparat Penegak Hukum (APH), dalam hal ini Polres Loteng. Sebab, upaya pemanggilan pihak yang diduga menggelapkan aset tersebut ke kantor desa, sudah dilakukan beberapa kali sejak tahun 2019. Hanya saja, sampai saat ini belum ada titik terang.

Seperti diketahui, sesuai dengan Surat Kesepakatan nomor 13/YPMNU/XI/2015, Rembiga 1 Desember 2015. Aset Desa tersebut ternyata telah dipinjam pakaikan ke Yayasan Pendidikan Bina Bakti Wanita Muslimat NU Kota Mataram yang beralamat di jalan Dr. Wahidin Gang Almahera II Lingkungan Rembiga Utara, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram. Peminjaman tersebut terjadi saat Kades Gemel sebelumnya menjabat, H. Ahmad Musanif. Selain mantan Kades, peminjaman itu juga disetujui oleh Mantan BPD Gemel atas nama Mawardi dan Ketua LKMD Idham Khalid. Itu diketahui karena merekalah yang bertandatangan dalam surat tersebut.

Kanit I SPKT Polres Loteng, IPTU Supardi yang dimintai keterangan soal ini membenarkan kasus ini.

“Benar telah menerima laporan dugaan Penggelapan Aset Desa Gemel. Berupa mesin bordir sejumlah 9 unit,” ungkapnya singkat.

Sementara itu, Kades Gemel Muhamad Ramli mengaku, pelaporan itu merupakan langkah yang ia lakukan mengingat desakan dari masyarakat yang terus meminta kejelasan soal aset desa yang lenyap entah kemana selama bertahun-tahun lamanya.

“Saya ngelapor ini karena dorongan warga, supaya ini terang benderang dan dipertanggung jawabkan semua dimata hukum,” terangnya.

“Kalaupun saya terlibat, saya siap diproses,” tambahnya tegas.

Diketahui, masyarakat selama ini kerap mempertanyakan soal ini ke Pemdes hingga ada yang melapor APH. Upaya itu untuk mempertegas aset desa yang tak jelas keberadaannya. Padahal, alat bordir ini dipinjamkan oleh Pemdes sebelum ia menjabat.

Dari sejumlah 10 unit alat bordir, 9 diantaranya dipinjam pakaikan dan 1 unit masih di desa menjadi bangkai. Dengan perkirakan perunit dulunya pada tahun 2015 dibeli seharga Rp. 8 juta. (TP-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *