Pemerintahan

Dinilai Gagal Pimpin RSUD Praya, Bupati Didesak Copot Muzakir Langkir

Puluhan masa aksi saat membentangkan spanduk meminta bupati Loteng mencopot Direktur RSUD Praya, Kamis (9/9) lalu.

PRAYA (NTB),Tatrapost.com Puluhan aktivis Lombok Tengah (Loteng) menggelar aksi sembari membentangkan spanduk di depan kantor bupati untuk meminta bupati, mencopot dan menonjobkan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya dari jabatannya.

Hal ini dilakukan karena mereka menganggap direktur saat ini sudah gagal dalam mengemban amanah di rumah sakit. Pasalnya, saat ini masih banyak ditemukan keluhan masyarakat terkait dengan pelayanan yang buruk. Disatu sisi, saat 100 hari kerja bupati dan wakil bupati oleh para aktivis dilihat banyak temuan berbagai pelayanan buruk itu. Sehingga tidak ada alasan direktur tidak segera dicopot dari jabatannya.

Perwakilan aktivis, Kusnandi Uying menegaskan, bahwa pihaknya yang tergabung dalam Jaringan Pemuda dan Mahasiswa Nusantara (JAPMA) NTB menggelar aksi pembentangan spanduk ini untuk mendesak bupati segera memberhentikan Direktur RSUD Praya. Karena selama 100 hari kerja ditemukan berbagai persoalan ditempat itu.

“Salah satunya tentang pelayanan yang buruk dan saat ini sedang diusut oleh kejaksaan. Dimana itu terkait kasus dugaan penyalahgunaan biaya pengganti pengolahan darah (BPPD) di Unit Tranfusi Darah (UTD) dan beberapa kasus lainnya, maka tidak ada alasan untuk tidak mencopot direktur,” ungkap Uying saat ditemui disela-sela aksi, Kamis kemarin (9/9).

Pihaknya menegaskan bahwa meski saat ini tidak ada larangan, tapi dengan adanya dobel jabatan yakni Direktur RSUD Praya yang sekarang menjabat juga sebagai Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) membuat berbagai pelayanan atau kinerjanya menjadi tidak maksimal.

“Inilah bentuk kekecewaan kami selaku rakyat dan kami akan terus datang jika Direktur RSUD tidak segera dicopot,” tegasnya.

Senada dengan Unying, massa aksi lainnya, Saidin Al-Fajri juga menegaskan, bahwa pembentangan spanduk akan dilakukan selama sepekan. Jika sampai sepekan ini tidak mendapat respons dari bupati Loteng, maka pihaknya akan mengerahkan massa untuk kemudian melakukan aksi yang lebih besar.

“Kegiatan ini kita akan lakukan selama seminggu sebagai bentuk kekecewaan. Karena kita melihat pada saat program 100 hari kerja bupati dan wakil bupati kemarin, banyak sekali ditemukan persoalan di RSUD. Artinya direktur ini sudah gagal dalam mengelola rumah sakit, mestinya harus berhenti dan kalau bisa dinonjobkan,” ungkapnya.

Saidin melihat, bahwa selama ini pelayanan terhadap masyarakat juga kurang maksimal. Bahkan mereka menuding jika direktur tidak becus dalam bekerja. Ironisnya, di tengah kegagalan memimpin rumah sakit, malah direktur dijadikan sebagai Plt Dikes.

“Lebih baik saat ini Direktur RSUD berhenti dan fokus dalam kasus yang saat ini sedang dihadapi di kejaksaan,” tegasnya.

Direktur RSUD Praya, Muzakir Langkir yang dikonfirmasi terkait tuntutan dari massa aksi menjawab dengan santai. Baginya, ini sebuah dinamika dan menjadi hal yang biasa jika ada yang suka dan tidak terhadap kinerjanya. Namun pihaknya mengaku dari penilaian yang dilakukan di rumah sakit bahwa masyarakat mengapresiasi kinerjannya.

“Biarkan saja dan tidak semua menganggap saya jelek, ada juga dari kuisioner untuk pelayanan kita sudah 85 persen kepuasan pasien. Jadi kita sudah maksimal dalam bekerja, kalaupun ada segelintir orang untuk protes, maka wajar saja dan ini adalah resiko,” singkatnya. (TP-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *