Disaat Sosialisasi Bahaya Perkawinan Usia Anak, GNI dan KTK Pujut Sepakat Bentuk LPAD di Semua Desa

GNI bersama KTK Pujut menggelar sosialisasi Dampak Pernikahan Usia Anak di Pujut di Gedung Serba Guna Kecamatan Pujut, Senin (4/10) kemarin.

LOMBOK TENGAH (NTB),Tatrapost.com Demi meminimalisir angka kematian ibu melahirkan karena usia ibu masih tergolong anak-anak atau remaja, Gugah Nurani Indonesia (GNI) bersama Karang Taruna Kecamatan (KTK) Pujut menggelar sosialisasi Dampak Pernikahan Usia Anak di Pujut, Senin (4/10/ 2021) kemarin. Sosialisasi yang digelar di Gedung Serba Guna Kecamatan Pujut tersebut, diikuti oleh berbagai kalangan pemuda. Diantaranya, Karang Taruna Desa, Forum Pemuda, Mahasiswa, dan juga Bapera Kecamatan Pujut.

Baiq Atmawati selaku perwakilan dari Dinas Kesehatan Lombok Tengah menyampaikan, bahwa selain berdampak pada kematian ibu melahirkan, menikah diusia anak juga mempengaruhi perkembangan reproduksi rahim pada anak tersebut. Itu terjadi karena rahimnya masih belum sempurna untuk melahirkan dan masih dalam tahap perkembangan. Sehingga ia meminta agar semua pihak menjauhi pergaulan seks bebas. Karena kebiasaan ini yang banyak menimbulkan wanita hamil di luar nikah.

“Banyak kita temukan kasus aborsi dan bayi yang di buang oleh ibu kandungnya karena pasangannya tidak mau tanggung jawab. Ini fenomena yang banyak kita jumpai atau kita baca di media sekarang ini,” terangnya.

Atmawati menambahkan, bahwa selain berdampak bagi kesehatan karena alat reproduksinya belum sempurna untuk masuk usia nikah, menikah di usia anak juga menyebabkan perekonomian belum stabil. Hal ini mengakibatkan angka kemiskinan bertambah dan rentan terjadi kasus perceraian remaja. Yang pada akhirnya, produksi janda daerah meningkat. Ini banyak terjadi karena pola fikir mereka masih belum dewasa dan mudah sekali mengambil keputusan dalam keadaan emosional.

“Sehingga terjadilah perkelahian yang berujung pada perceraian,” ungkapnya.

Pengurus KTK Pujut, GNI dan para peserta sosialisasi Dampak Pernikahan Usia Anak pose bersama usai sosialisasi, Senin (4/10) kemarin.

Demikian juga disampaikan Manager Lombok-Mertak Community Development Project GNI, Denok Sari Saputri bahwa, di beberapa desa yang memiliki Lembaga Perlindungan Anak Desa (LPAD) saat ini, sangat produktif dalam mencegah pernikahan usia anak. Untuk itu, ia mengajak semua stakeholder dan KTK Pujut untuk membentuk LPAD di semua desa di Kecamatan Pujut. Karena seperti apa yang disampaikan oleh pihak Dikes tadi, ada banyak dampak negatif dari pernikahan di usia anak.

“Jujur saja, di data kami di beberapa desa yang memiliki Lembaga Perlindungan Anak Desa,  sangat produktif dan efektif dalam menangani atau mencegah pernikahan dini,” aku Denok.

Koordinator Bidang Advokasi dan Bantuan Hukum KTK Pujut, Gusti Sampane Gare selaku perwakilan KTK Pujut dalam kesempatan tersebut menyampaikan, pihaknya sangat mengapresiasi apa yang menjadi terobosan GNI selama ini dalam mencegah pernikahan usia anak. Sehingga, KTK Pujut pun siap bersinergi dengan GNI ke depan untuk bersama-sama menanggulangi maraknya pernikahan usia anak di Pujut. Sinergi itu akan ditindaklanjuti dengan keseriusan KTK Pujut untuk membentuk LPAD di seluruh desa se- Kecamatan Pujut.

Artinya, KTK Pujut siap bersinergi dengan GNI karena ini juga merupakan tindakan preventif yang sejalan dengan Peraturan Daerah NTB nomor 5 tahun 2021 tentang pencegahan perkawinan anak yang beberapa bulan lalu disahkan oleh Pemprov dan DPRD NTB. 

“Sosialisasi ini kami harap akan menjadi salah satu langkah preventif untuk mencegah pernikahan anak yang semakin marak terjadi di masyarakat, lebih-lebih saat ini kita sedang terdampak oleh pandemi Covid-19,” ujarnya. (TP-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *