Jadi Cagar Biosfer Dunia, TWA Gunung Tunak Dikunjungi Peserta Konferensi SeaBRnet ke-13

Kepala BKSDA NTB, Direktur KIFC, Kadis Parbud Loteng dan para peserta konferensi SeaBRnet ke-13 pose bersama di TWA Gunung Tunak, Rabu (17/11).

LOMBOK TENGAH (NTB),Tatrapost.com Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tunak yang berada di Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, NTB dengan luas kawasan 1.297,2 Ha ini, rupanya masuk sebagai salah satu cagar biosfer dunia.

Kaitan dengan hal tersebut, salah satu kawasan pengembangan wisata berbasis konservasi di NTB ini, masuk menjadi salah satu lokasi kunjungan lapangan (field trip) para peserta kegiatan South East Asia Biosfer Reserve Network (SeaBRnet) 13th Meeting atau pertemuan tahunan dari Jaringan Cagar Biosfer Asia Tenggara ke-13.

Konferensi Internasional yang digelar di Lombok yang pelaksanaannya selama tiga hari, mulai pada Senin 15 November 2021 lalu hingga hari ini Rabu, 17 November ini, diikuti oleh puluhan peserta SeaBRnet dari berbagai negara dan daerah.

“Mereka (peserta SeaBRnet, Red) ini datang ke TWA Gunung Tunak dalam rangka kunjungan lapangan dengan melaksanakan beberapa kegiatan seperti Forest Healing Walk, Turtle Release, melihat Potensi Geowisata di Teluk
Ujung, Budaya di Gunung Raden
dan Teluk Ujung serta Terapi Pasir (beach sand natural massage technique),” ungkap Manager TWA Gunung Tunak, Rata Wijaya kepada Tatrapost.com disela-sela menerima kedatangan peserta konferensi SeaBRnet ke-13.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB, Joko Iswanto di hadapan peserta konferensi SeaBRnet ke-13 mengutarakan kebanggaannya dikunjungi para peserta konferensi yang juga sebagai pengelola serta penanggung jawab dari cagar biosfer di Indonesia. Yang mana, di Indonesia saat ini terdapat 19 Cagar Biosfer, 2 diantaranya ada di provinsi NTB. Cagar Biosfer Rinjani Lombok dan Cagar Biosfer Saleh Moyo Tambora.

Untuk diketahui kata Joko, kawasan konservasi BKSDA NTB yang menjadi bagian dari Cagar Biosfer Rinjani Lombok adalah TWA Kerandangan, TWA Suranadi, TWA Pelangan, TWA Bangko-Bangko, TWA Tanjung Tampa dan TWA Gunung Tunak. Sedangkan yang masuk ke dalam Cagar Biosfer Saleh Moyo Tambora ialah TWAL Pulau Moyo, Taman Buru Pulau Moyo dan TWA Pulau Satonda.

Untuk TWA Gunung Tunak sendiri lanjutnya, merupakan core area dari Cagar Biosfer Rinjani Lombok dan merupakan salah satu dari 18 Kawasan konservasi BKSDA NTB.  11 dari 18 kawasan konservasi yang dikelola BKSDA NTB berstatus taman wisata alam.

“Di sini, praktek pemanfaatan jasa ekosistem dan pemberdayaan masyarakat di TWA Gunung Tunak, sudah berjalan bapak ibu. Pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam berupa pemberian Izin Usaha Sarana Pariwisata Alam, sebanyak 4 izin kita keluarkan dan untuk Izin Usaha Jasa Wisata Alam ada 2 izin,” jelasnya.

Direktur KIFC Danu Kusuma dan Kadis Parbud Loteng H Lendek Jayadi disaksikan Kepala BKSDA NTB Joko Iswanto saat menunjukkan buku saku yang mengulas soal TWA Gunung Tunak.

Joko melanjutkan, di TWA Gunung Tunak ini pihaknya menerapkan Pengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism-CBT) yang mulai dirintis sejak 2013 lalu. Dimana, ada 3 misi utamanya yakni meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan jumlah kunjungan dan juga meningkatkan Pendapatan Negara Bukan Pajak BNBP. Tidak sampai disitu, program kemitraan ini juga berlanjut pada awal 2015 dengan menjalin kerja sama Government to Government dalam hal ini Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan (KLHK) dengan Pemerintah Korea Selatan melalui Korea Forest Service.

“Untuk diketahui juga ibu bapak, terdapat 3 ruang lingkup program kami di TWA Gunung Tunak dalam upaya mewujudkan pengembangan ekowisata. Diantaranya, menyusun Master Plan wisata TWA Gunung Tunak, mengembangkan kapasitas SDM dan pembangunan sarana prasarana wisata alam,” terangnya.

Kepala BKSDA NTB yang baru menjabat beberapa bulan ini juga menyampaikan, untuk penyusunan master plan dilakukan pada 2014. Sedangkan pengembangan SDM masyarakat, petugas, serta stakeholder dimulai sejak 2015. Kemudian pembangunan sarana wisata alamnya dilakukan pada 2016. Sedangkan untuk Kelompok Masyarakat Tunak Besopoq dibentuk pada 2015 sebagai representasi seluruh elemen masyarakat di Desa Mertak dengan jumlah anggota sebanyak 30 orang dan saat ini jumlahnya sudah mencapai 95 orang.

“Pelatihan, pendidikan, training dan magang serta pendampingan menjadi kunci keberhasilan kami dalam pengembangan wisata alam di TWA Gunung Tunak. Setidaknya 20 kali pelatihan, 3 kali studi banding, 5 kali pengiriman magang dan juga pendampingan setiap 2 kali dalam seminggu telah dilakukan sejak 2015 hingga sekarang. Dan sebanyak 312 masyarakat, pegawai pemerintah daerah, UPT dan pegawai pusat telah ditraining dengan adanya kerja sama ini,” ungkapnya.

Lebih jauh Joko bercerita, bahwa melalui program pengembangan wisata alam berbasis masyarakat, Korea Indonesia Forestry Cooperation Center (KIFC) membantu mewujudkan role model BKSDA NTB. Ketiga indikator utama ini, dari 2018 sampai 2021 mengalami pertumbuhan yang pesat, meskipun pada 2018 Pulau Lombok diguncang gempa dan pada awal Maret 2020 lalu kawasan ditutup karena Pandemi Covid-19.

Peningkatan pendapatan masyarakat dari jasa lingkungan wisata alam yang dikelola masyarakat mencapai Rp. 500 juta per tahun dari start nol rupiah. Selain itu, multiplayer effect dari keberadaan kawasan konservasi yang menjadi bagian Cagar Biosfer Rinjani Lombok ini, juga dirasakan oleh masyarakat. Keberadaan guest house dan restaurant yang dikelola oleh masyarakat, mendukung akomodasi event-event yang diadakan di wilayah KEK Mandalika. Selain pengembangan SDM, bantuan usaha ekonomi kreatif juga diberikan kepada kelompok masyarakat untuk mendukung peningkatan usaha wisata alam. 

Produk wisata alam yang dikembangkan kelompok masyarakat yang merupakan wujud pemanfaatan jasa ekosistem adalah forest healing, jungle tracking, cliff jumping, camping,  rock fishing trip, bird watching dan lainnya. Sedangkan dari luasan 1.297,2 Ha lahan TWA, setidaknya terdapat 7 pantai yang populer dikunjungi pengunjung. Diantaranya, ada Pantai Sari Goang, Bila Sayak, Teluk Ujung, Terasak, Batu Jangak, Pudal dan Pantai Sari Surak.

“Sebagai kawasan penyangga KEK Mandalika yang di dalamnya ada Sirkuit Mandalika, kami juga siapkan diri untuk bisa Go Internasional, tentu dengan melakukan perbaikan-perbaikan secara bertahap,” katanya.

Demikian juga disampaikan Direktur Korea Indonesia Forest Coorporation Center (KIFC) Danu Kusuma, bahwa sebagai mitra dalam pengembangan TWA Gunung Tunak, pihaknya juga sangat berterimakasih kepada pada pelaksana kegiatan konferensi tahunan SeaBRnet di Lombok yang telah memilih TWA Gunung Tunak sebagai salah satu lokasi kunjungan lapangan bersama dengan 2 lokasi lainnya di Taman Nasional Rinjani Lombok.

Selanjutnya, sesuai dengan tema SeaBRnet tahun ini yakni “Jasa Ekosistem dan Pemberdayaan Masyarakat Menuju Pengelolaan Cagar Biosfer Berkelanjutan,” TWA Gunung Tunak sebagai bagian dari Cagar Biosfer Rinjani Lombok, merupakan model nasional dalam pengembangan berkelanjutan kawasan hutan berbasis masyarakat. Khususnya dalam ekowisata.

Para peserta SeaBRnet ke-13 dalam negeri, saat melakukan kunjungan lapangan ke Cagar Biosfer Dunia TWA Gunung Tunak.

Pengembangan ekowisata TWA Gunung Tunak sendiri merupakan proyek kerjasama bilateral antara Pemerintah Republik Korea dan Republik Indonesia di bidang pengembangan ekowisata yang difasilitasi oleh KIFC. Ekowisata Tunak mulai dikembangkan sejak tahun 2015 hingga akhirnya diresmikan pada Maret 2018 lalu.

Pemerintah Korea melalui KIFC,  memberikan dukungan dalam pembangunan sarana dan prasarana ekowisata seperti, guest houses, visitor center, restaurant, multipurpose building, dan butterfly learning center, serta dukungan dalam peningkatan SDM lokal melalui capacity building dan comparative study ekowisata ke Korea.

Dalam pelaksanaannya, kata Uus sapaan akrabnya, TWA Gunung Tunak dibina dan disupervisi langsung oleh KLHK melalui BKSDA NTB. Sehingga saat ini, TWA Tunak bisa menjadi model nasional dalam pengembangan ekowisata berbasis masyarakat yang ada di Indonesia.

“Kami juga sampaikan bahwa KIFC sendiri merupakan organisasi yang dibentuk oleh KLHK dan Korea Forest Service (KFS) dengan tugas utama untuk memperkuat dan memfasilitasi Kerjasama kehutanan antara kedua negara,” terangnya.

Selain Tunak lanjutnya, pihaknya juga memfasilitasi proyek kerjasama lainnya. Seperti REDD+, forest fire monitoring system, restorasi lahan gambut, pembangunan nursery center, serta ekowisata lainnya di Korean Gallery di TNGGP dan Sentul Eco Edu Toursim Forest (SEETF) di Sentul Bogor.

Keberhasilan ekowisata di Tunak merupakan wujud nyata dari komitmen Pemerintah Korea dan Indonesia dalam pembangunan dan pemanfaatan hutan berkelanjutan dengan selalu melibatkan masyarakat sebagai pelaku utamanya. Kedepannya, Pemerintah Korea melalui KIFC akan mengembangkan forest healing, program yang diadopsi dari kehutanan Korea untuk diterapkan di hutan konservasi Indonesia, tepatnya di TWA Tunak dan TNGGP Jawa Barat.

Demikian juga di Tunak, walaupun kerjasamanya resmi berakhir pada 2018 lalu, pihaknya tetap akan membantu, terutama untuk pengembangan Forest Healing. Termasuk juga untuk pengembangan paket wisata lainnya.

“Di Korea itu terkenal dengan program wisata Forest Healing-nya, itu yang kita mau programkan di Tunak ke depannya,” tutup Uus.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Loteng, H Lendek Jayadi juga menyampaikan, bahwa NTB ini memiliki banyak TWA yang indah dan potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata seperti TWA Gunung Tunak ini. Mulai dari ujung timur, barat hingga selatannya di kaki Gunung Rinjani. Secara perlahan, potensi itu akan mampu berkembang dengan kerjasama yang baik dengan masyarakat.

Lendek pun mengajak masyarakat menjaga SDA yang dimiliki untuk generasi masa yang akan datang. Sebab, menurutnya dunia wisata ini menjadi salah satu kekayaan alam yang bisa menjadi alat pemersatu bangsa. Tentu, dengan memperkuat kearifan lokal, budaya, adat istiadat dan melibatkan masyarakat dalam pengembangannya.

“Apa yang kita miliki ini, ayo kita jaga bersama dan saya yakin TWA Gunung Tunak akan menjadi destinasi wisata andalan Lombok Tengah ke depan. Terimakasih BKSDA NTB, mas Uus dari KIFC yang telah membantu kami pemerintah Indonesia dan daerah untuk mempermak TWA Gunung Tunak menjadi seperti ini,” ucapnya.

“Terimakasih juga kepada para peserta konferensi SeaBRnet ke-13, semoga pertemuan ini bisa menjadi momen silaturrahmi dan bertukar ide dan gagasan dalam upaya mengembangkan cagar biosfer di Indonesia,” pungkasnya. (TP-01).

One thought on “Jadi Cagar Biosfer Dunia, TWA Gunung Tunak Dikunjungi Peserta Konferensi SeaBRnet ke-13

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *