Pembangunan

Jembatan Penghubung Montong Sapah dan Batu Jangkih Ambruk, Polisi dan Warga Bangun Jembatan Darurat

Kapolres Loteng AKBP Esty Setyo Nugroho bersama anggota dari Polres dan Polsek Prabarda serta warga bergotong royong membangun jembatan penghubung darurat di Desa Batu Jangkih dan Desa Montong Sapah, Selasa (6/4).

LOMBOK TENGAH—Musim penghujan tahun ini, Pulau Lombok diterjang hujan lebat disertai angin kencang yang mengharuskan masyarakat mesti hati-hati beraktivitas. Cuaca ekstrim ini pun mengakibatkan setidaknya ada tiga jambatan penghubung antar dusun dan desa di Desa Batu Jangkih, Kecamatan Praya Barat Daya (Prabarda), Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), NTB yang ambruk akibat diterjang air bah, Rabu (24/2/2021) lalu.

Itu terjadi karena intensitas air yang mengalir cukup deras dari hulu pegunungan di sekitarnya saat terjadinya hujan kala itu. Atas musibah tersebut, setidaknya mengakibatkan sekitar 420 Kepala Keluarga (KK) yang berasal dari tiga dusun di desa tersebut terisolir dan membutuhkan perhatian dari Pemerintah Daerah (Pemda). Baik pemerintah kabupaten maupun provinsi.

Hanya saja, karena tidak serta merta bisa langsung diperbaiki pemerintah, kondisi tiga jembatan tersebut masih seperti semula. Dengan kondisi seperti ini, Kapolres Loteng AKBP Esty Setyo Nugroho menggerakkan personilnya untuk melaksanakan gotong royong membangun jembatan darurat menggunakan bambu dan kayu bersama warga Desa Batu Jangkih dan Desa Montong Sapah, Selasa (6/4).

“Kami berharap, jembatan darurat yang menghubungkan antar desa ini dapat berguna dan berfungsi dengan baik,” kata AKBP Esty, di lokasi, Selasa (6/4).

Diketahui, jembatan yang menghungkan dua desa tersebut, terputus lantaran terbawa arus sungai yang cukup besar akibat hujan pada akhir Februari lalu. Padahal akses jembatan itu cukup penting untuk menopang kegiatan ekonomi masyarakat dan akses pendidikan anak-anak yang masuk sekolah.

“Insya Allah, pembangunan jembatan darurat menggunakan bambu dan kayu penyangga ini bisa dipakai,” ujar Esty.

Ia menjelaskan, sedikitnya sekitar 50 personel Polres dan Polsek diterjunkan dalam kegiatan gotong royong tersebut dengan dibantu Bhabinsa dan Pol PP.

“Ini merupakan salah satu bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat,” tandas Kapolres.

Tidak hanya itu, Kapolres juga memberikan alat sarana olah raga kepada pemuda setempat yang diserahkan secara simbolis dan diterima oleh kepala Dusun Pemoles, Desa Batu Jangkih. Ia pun berharap, semoga peralatan olahraga yang diberikannya itu bisa bermanfaat serta dapat mencetak para pemuda menjadi berbakat dan berprestasi.

Sebelumnya, Kades Batu Jangkih H Sentum menegaskan, bahwa di desanya ada tiga jambatan yang ambruk akibat derasnya air bah. Diantaranya, jembatan penghubung antara dusun di Dusun Semper menuju Dusun Gerintuk, jembatan Dusun Pemoles menuju Dusun Renseng dan jembatan desa yang menghubungkan Dusun Pemoles Desa Batu Jangkih dengan Desa Montong Sapah. Ketiga jembatan ini kata Sentum, sudah menjadi akses satu-satunya dari masyarakat selama ini. Hanya saja, ketika ambruk seperti ini, aktivitas masyarakat tidak bisa optimal. Terutama aktivitas ekonomi, pendidikan, sosial dan lainnya.

Dikatakan, dari tiga jembatan ini sudah sering diperbaiki Pemdes dan Pemkab. Hanya saja, karena derasnya aliran air bah, konstruksi jembatan tersebut kembali rusak. Ia mencontohkan, untuk jembatan penghubung antar dusun di Dusun Pemoles-Renseng itu, sebelumnya sudah dikerjakan dari Dana Desa (DD) tahun 2018 dengan panjang 13 meter dan lebar 3 meter. Termasuk dari Pemkab juga sudah dibangun. Hanya saja, jambatan yang menjadi akses menuju SDN Gerintuk tersebut kembali ambruk total.

“Ada tiga dusun yang terdampak akibat jembatan ambruk yakni Dusun Gerintuk I, Gerintuk II dan Dusun Pemoles. Tiga dusun ini dihuni sekitar 420 kepala keluarga dan kini masih terisolasi,” tutur Kades yang juga mantan Sekdes ini akhir Februari lalu.

Sentum menegaskan, bahwa warga yang ada ditiga dusun ini menjadi terisolasi karena jambatan yang sehari-hari mereka lalui kini sudah ambruk. Pihaknya mengaku jika warga ingin keluar dari dusunnya ketika air sungai deras, harus dengan cara berenang.

Ia pun berharap, dengan adanya kejadian tersebut Pemda bisa segera melakukan pembangunan jembatan dan menjadikannya program prioritas. Karena diakuinya, Pemdes tidak mampu menganggarkan melalui Dana Desa (DD) untuk pembangunan tiga jambatan yang rusak. Sebab, per satu jembatan bisa menghabiskan dana ratusan juta. Kalaupun akan dibangun dengan konstruksi seperti sebelumnya, ia juga tidak yakin bakal bertahan lama. Dikarenakan derasnya air bah yang mengalir dari hulu ketika hujan deras seperti tahun ini. Makanya, jika dibangun oleh Pemkab ia berharap bisa lebih paten dan dengan dana yang lebih besar lagi.

“Tiga jambatan yang rusak itu sudah kita laporkan ke Dinas PUPR Lombok Tengah,” terangnya. (TP-01)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *