Pembangunan

Pengerjaan Gedung Puskesmas Batu Jangkih Dinilai Asal-Asalan

Kadus Batu Jangkih Mahyun saat menunjukkan bagian konstruksi pembangunan Gedung Puskesmas yang dinilai asal-asalan.

LOMBOK TENGAH (NTB),Tatrapost.com Warga Desa Batu Jangkih, Kecamatan Praya Barat Daya (Prabarda), Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) mempersoalkan pengerjaan Gedung UPTD Puskesmas Batu Jangkih. Pasalnya, pengerjaan fasilitas umum yang dikerjakan oleh CV. Rangga Makazza tersebut dinilai asal-asalan, terutama pada bagian pondasinya. Itu karena pasangan batu pada pondasi dasarnya tidak digali namun hanya dipasang di atas permukaan tanah. Kondisi ini dikhawatirkan mengurangi kualitas gedung fasilitas kesehatan tersebut.

Atas kondisi tersebut, warga bersama Pemdes dan BPD memanggil pihak kontraktor untuk menjelaskan penilaian masyarakat secara langsung pada Selasa (7/9) kemarin. Jika tidak, warga meminta agar pengerjaannya ditunda sementara waktu.

Seperti yang disampaikan oleh Taqiuddin, Warga Dusun Pandan Tinggang Desa Batu Jangkih, bahwa dalam pembangunan Puskesmas ini banyak spekulasi masyarakat muncul. Terutama soal kwalitas pengerjaannya. Itu muncul karena plang proyek terpasang tapi tidak mencantumkan jumlah anggarannya. Secara rinci, sumber anggaran dan jumlahnya tidak diketahui masyarakat. Padahal di semua proyek pemerintah, pelaksana kegiatan atau kontraktor harus transparan dalam setiap proses pengerjaannya. Apalagi pengerjaan sudah lama berjalan.

“Kalau tidak ada rincian anggaran begini, saya bingung juga apa yang dibangun, kayak gimana pembangunannya, kapan dia selsai dibangun, kita tidak tahu,” ungkapnya dihadapan kontraktor dan konsultan pengawas kemarin.

Sehingga Taqi meminta agar kontraktor memperjelas anggaran proyek tersebut. Selain itu katanya, yang dipersoalkan dan jadi pertanyaan warga yakni adanya pondasi bangunan sebelah Selatan yang sudah jebol. Tak hanya itu, pondasinya dipasang di atas tanah, tanpa melalui galian seperti kebanyakan proyek gedung dan hanya dihadang dengan pasangan bambu. Hal ini membuat warga khawatir nantinya gedung ini baru selsai dibangun, sudah ambruk. Terlebih, kondisi tanah di sini pegunungan dan strukturnya labil dan mudah terkikis hingga rawan longsor. Apalagi nanti ketika menanggung beban gadung yang besar.

“Sehingga tolong, kalau tidak ada kejelasan seperti apa proyek ini, ditunda saja dulu pengerjaannya. Kalau tidak sesuai spek, lebih baik dibongkar saja dari pada membahayakan masyarakat empat desa nanti setelah ditempati,” tegasnya.

Dikatakan, apa yang dilakukan warga ini wajar sebagai bentuk kehati-hatian. Apalagi pihak pelaksana dari awal tidak terbuka pada masyarakat.

Pemdes dan pihak kontraktor saat bertemu di salah satu rumah warga di Dusun Batu Jangkih, Desa Batu Jangkih, Selasa (7/9).

Senada juga disampaikan Senirip, bahwa, yang bakal memanfaatkan fasilitas umum ini yakni masyarakat empat desa. Desa Batu Jangkih, Montong Ajan, Montong Sapah dan Desa Kabul. Dengan adanya perbaikan ini, ia pun sangat mendukung pengerjaannya. Hanya saja, karena tidak adanya transparansi dalam proses pengerjaan dan dugaan pengerjaan asal-asalan, warga sangat geram. Warga kata dia, jangan dianggap bodoh oleh kontraktor sehingga semaunya mengerjakan proyek.

“Masjid saja ada plang proyeknya, ini fasilitas umum yang sumber anggarannya dari pemerintah kok tidak jelas,” geram pria asal Dusun Jegeran ini.

“Sebenarnya pak, simpel maunya warga, silahkan pengerjaannya sesuai spek dan pasang plang proyeknya secara detile,” sambung Kadus Batu Jangkih, Mahyudin.

Disampaikan Kadus muda ini, bahwa proyek ini memang belum tuntas dikerjakan namun warga seperti ini karena ingin memastikan pengerjaannya sesuai perencanaan. Agar ketika difungsikan nanti tidak membahayakan masyarakat. Seperti contoh, untuk pondasi sebelah selatan dan barat itu, sangat mengkhawatirkan. Dikarenakan pengerjaannya terlihat asal-asalan, terlebih dipasang dengan kondisi tanah yang miring atau jurang.

“Pondasi belakangnya tidak ditanam di dalam galian, hanya dipasang di atas tanah saja,” bebernya.

Menjawab keluhan warga tersebut, Kontaktor Gedung Puskesmas Batu Jangkih, Juliani Hidayatullah menyampaikan, apa yang disampaikan warga ini hal yang wajar dan penting sebagai bagian kontroling karena merekalah yang akan memanfaatkan nanti. Namun demikian, ia berharap agar solutif dan konstruktif. Perlu diketahui juga, bahwa penilaian warga itu tidak benar adanya. Pihaknya mengerjakan proyek ini sesuai yang ada di gambar. Jika tidak, sudah sejak awal pengerjaannya ditolak oleh pengawas dari dinas. Apalagi, proyek ini juga diawasi oleh BPK RI.

“Kalau kami kerjakan tidak sesuai dengan gambar, pasti akan ditolak oleh dinas dari awal,” jelasnya.

Diutarakan Yayat sapaan akrab kontraktor ini, bahwa terkait pondasi yang dipasang atau dilepas di atas tanah urug di sebelah barat dan selatan itu, hanya sebagai penghadang tanah urug dan pondasi dalamnya saja. Nantinya, akan ada pondasi luar yang konstruksinya kuat yang fungsinya untuk memperkuat pondasi dalam. Konstruksi itu dilakukan untuk memperkuat bangunan gedung yang dibangun dengan kondisi tanah miring.

Jadi, apa yang menjadi kekhawatiran warga, sudah pihaknya atasi dari awal. Karena jika tidak demikian, betul adanya gedung akan cepat roboh.

“Itu kan ada kami sudah mulai pasang pondasi penguatnya di luar,  untuk menguatkan pondasi bangunan gedung yang ada di dalam,” cetusnya.

Tidak hanya itu, dari awal sebelum pihaknya mulai kerja, sudah bersurat ke Pemdes untuk meminta izin dan memberitahukan akan mulai kerja. Itu sebagai bentuk permisinya ke desa. Tak hanya itu, pihaknya juga mengakomodir warga sekitar sebagai pekerja, pengesup material dan lainnya. Sehingga pihaknya mempercayakan mereka dan berharap agar mereka yang menyosialisasikan ke masyarakat secara luas. Hanya saja mungkin, karena keterbatasan kemampuan, itu tidak berjalan dan ia pun berharap agar warga bisa menanyakan ke mereka jika ada yang belum jelas.

“Kami dari awal sangat berhati-hati agar pengerjaan proyek ini tidak gagal konstruksi,” ujarnya.

“Yang jelas saudara-saudaraku, bentangan untuk menjaga tanah di luar itu belum jadi, kalau sudah jadi, pondasi dalamnya pasti akan kuat,” tambahnya.

Demikian juga disampaikan Maman, konsultan pengawas proyek tersebut, bahwa selama ini dirinya melihat pembangunan Puskesmas sesuai aturan. Jika tidak, akan menjadi persoalan dan jadi temuan BPK. Dirinya juga, selaku konsultan pengawas tidak berani membiarkan kontraktor bekerja melanggar spek dan gambar. Sehingga, baginya apa yang disampaikan rekan-rekan tadi karena proyek belum jadi saja.

“Mungkin komunikasi saja, kami pastikan pengerjaannya sesuai spek,” singkatnya. (TP-02).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *