Ratusan Warga di Lombok Barat Diduga Korban Penipuan Berkedok Deposito

Pengurus AMPES Lobar, Pemdes Giri Tembesi, Babinsa, Bhabinkamtibmas dan Herawati saat melakukan pertemuan di kantor desa setempat, Rabu (6/10).

LOMBOK BARAT (NTB),Tatrapost.com Ratusan warga dari beberapa desa di Kabupaten Lombok Barat diduga menjadi korban penipuan berkedok deposito yang dilakukan oleh oknum perempuan inisial IAWK atau Ibu Agung, warga BTN Reyan Indah, Kelurahan Gerung Selatan, Kecamatan Gerung, Lobar. IAWK diketahui merupakan istri seorang anggota Polisi aktif di Polda NTB.

Dalam melakukan aksi dugaan penipuannya, IAWK selama ini bercerita kepada warga bahwa sesuai buku tabungan yang dipegang warga, ia memiliki Koperasi Cahaya Agung yang beralamatkan di Jalan Gora Gang Rambutan No.7 Cakranegara, Kota Mataram. Melalui koperasi tersebutlah terduga pelaku menjalankan aksi deposito dan tabungannya.

Tak hanya berkedok deposito melalui koperasinya yang diduga bodong itu, IAWK juga diduga menipu ratusan warga dengan cara meminjam nama beserta  jaminan sertifikat, BPKB dan lainnya untuk digunakan sebagai anggunan ke Bank BRI Cabang Gerung dan Unit Kebon Roek Ampenan. Bahkan, jika warga mau meminjam, juga dilayani dengan proses cepat jika melalui bank tersebut. Dengan proses pencairan cepat, uang pun dengan mudah dimiliki warga. Hanya saja, di tengah perjalanan setoran warga digelapkan.

Mayadi, salah satu warga Gawah Berure, Desa Giri Tembesi, Kecamatan Gerung mengaku, jika dirinya menjadi korban penipuan IAWK. Ia menceritakan awal mula dirinya tertipu dengan rayuan pelaku. Waktu itu, beberapa bulan lalu pelaku meminjam sertifikat tanahnya sebagai anggunan untuk mengajukan pinjaman ke Bank BRI sebanyak Rp. 200 juta. Saat itu, ia menyetujuinya saja permintaan itu karena saking percayanya. Tidak pernah terbesit dugaannya bakal seperti ini. Terlebih, ia diberikan uang imbalan jasa sejumlah Rp. 4 juta oleh pelaku sebagai ucapan terimakasih. Modus pelaku seperti ini juga dijalankan ke beberapa warga dengan jumlah pinjaman lebih besar.

“Baru saya tahu Ibu Agung ini menipu setelah menghilang dan datang petugas dari BRI nagih ke saya. Saya jadi bingung dan susah,” akunya.

Ibu Herawati, anak buah IAWK saat menunjukkan buku tabungan dan BB kwitansi deposito warga di rumahnya.

Adi pun berharap, pihak BRI memahami posisinya sebagai korban penipuan. Selain itu, ia berharap pelaku bisa segera di temukan dan mempertanggung jawabkan apa yang dilakukannya ini ke bank. Sehingga sertifikat lahannya kembali. Tak hanya itu, ia juga berharap pemerintah desa bisa memfasilitasi persoalan yang dihadapi bersama beberapa warga lainnya.

“Ada banyak modus penipuan yang dijalankan Ibu Agung ini kalau saya tanya dan dengar penuturan warga. Mungkin kerugiannya puluhan miliar pak,” tuturnya dihadapan Pemdes, Bhabinkamtibmas, Babinsa, LSM AMPES Lobar dan media di kantor desa setempat, Rabu (6/10).

“Saya juga demikian pak, saya tidak tahu mau mengadu kemana sekarang. Setiap hari warga datang menagih ke saya karena mereka tahunya saya anak buah Ibu Agung,” sambung Herawati, adik dari Adi yang selama ini berprofesi sebagai pembantu rumah tangga di rumah Ibu Agung.

Herawati menuturkan, selain sebagai pembantu rumah tangga, bertahun-tahun ia juga disuruh terduga pelaku sebagai karyawan di koperasi yang konon dikelolanya itu. Dimana, ia diminta setiap hari mengambil setoran tabungan ke ratusan nasabah koperasi, tidak untuk lainnya. Kalaupun untuk setoran deposito dan tagihan pinjaman bank yang juga dijalani pelaku, Her panggilan akrab perempuan ini mengaku tidak pernah ia jalani. Kecuali ada yang menitip setoran ke dirinya, baru ia ambil namun itu langsung ia setorkan ke pelaku.

“Tidak lebih dari itu yang saya jalankan selama ini, tapi namanya warga tahunya saya saja makanya mereka datang nagih ke saya,” ujarnya.

Her mengaku, tidak menyangka  kejadian dugaan penipuan ini terjadi karena selama ia bekerja di rumah pelaku sejak 2014, bisnis pelaku lancar-lancar saja. Apa yang dipercayakan warga juga tidak pernah macet. Baik tabungan, deposito, pinjaman bank maupun lainnya.

Untuk diketahui juga kata Her, dirinya selama bekerja mengambil uang tabungan, ketika ada nasabah menyerahkan uang, langsung ia disetorkan ke pelaku. Terhadap seperti apa pengelolaan uang itu, ia tidak tahu karena itu semua atas kendali Ibu Agung.

“Saya hanya ambil tabungan saja, catatan nama-nama orang yang menabung dan berapa jumlah tabungannya, itu semuanya dikendalikan ibu Agung. Bapak (suami pelaku, Red) juga tahu bisnis ibu begini, tapi dia tidak mau ikut campur,” sebutnya.

Apa yang diceritakan Herawati tersebut senada dengan apa yang disampaikan Baiq Sri Sulatami, warga Desa Jembatan Kembar Timur, Kecamatan Gerung pada Minggu (3/10) lalu. Ia juga mengaku disuruh oleh ibu IAWK sebagai karyawan untuk mencari nasabah di koperasi. Dari profesi yang ditugaskan pelaku ke dirinya tersebut, selama ini ia sudah mendapatkan 15 nasabah yang mendepositokan uangnya di koperasi dengan nilai deposito sekitar Rp. 500 juta. Itu merujuk pada kwitansi yang ditunjukkan ke awak media.

“Tapi saya tidak pegang uang nasabah itu. Semua uang disetor ke ibu IAWK dengan membuatkan bukti kwitansi penerimaannya. Bahkan ada juga nasabah yang langsung berhubungan dengan ibu,” bebernya.

Atas kondisi ini, Baiq Sri kini kebingungan mencari keberadaan IAWK selaku pengelola dan penanggungjawab dari koperasi tempat ia bekerja. Sebab, kini pelaku sudah tidak ada di rumahnya dan kontaknya sudah tidak aktif.

Persoalan ini, kini sudah diketahui Pemdes Giri Tembesi. Ditemui di kantornya, Sekdes Giri Tembesi Saharudin mengaku sejauh ini belum ada warga yang melapor ke desa terkait persoalan ini. Namun ia sangat terkejut ketika mengetahui informasi tersebut. Terlebih, infonya para korban ada ratusan dari Giri Tembesi dan dengan nominal dugaan penipuannya cukup besar pula. Sehingga yang dikhawatirkan Pemdes yakni adanya gesekan di masyarakat ketika para korban terus saja meminta pertanggung jawaban Herawati.

“Ya wajar juga sih warga meminta pertanggung jawaban ibu Her karena warga tahunya dia saja selama ini tempat mereka memberikan uang tabungan,” ujarnya.

Sementara itu, M Al Haetami dari LSM AMPES Lobar selaku pendamping para korban dugaan penipuan ini mengutarakan, bahwa dari investigasi yang telah dilakukan pihaknya selama ini, ditemukan ada ratusan korban dari Ibu Agung. Mereka ini tidak berasal dari satu desa, ada dari Desa Nyiur Lembang, Lingkungan Rean Kelurahan Gerung selatan, Jembatan Kembar, Kelurahan Dasan Geres dan lainnya. Terhadap  persoalan ini, ia pun serius mengusut tuntas oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dalam persoalan ini. 

“Keterlaluan ini dan kami siap mendampingi para korban. Kita tidak boleh membiarkan rakyat kecil terzolimi oleh oknum seperti ini,” tegasnya.

Diceritakan M Al Haetami bahwa  selama beberapa tahun ini hubungan emosional warga dengan IAWK ini cukup bagus. Tabungan, deposito dan pinjaman warga tidak pernah bermasalah. Ketika warga mengajukan pinjaman ke Bank BRI melalui Ibu Agung, prosesnya juga mudah dan cepat. Hal ini membuat warga selalu menggunakan jasanya ketika membutuhkan dana cepat walaupun pinjaman hingga ratusan juta.

Namun atas kondisi ini, ia pun mencurigai jika ada oknum Bank BRI juga ikut bermain di belakang Ibu Agung, terutama dalam proses pengajuan pinjaman. Karena tidak mungkin pengajuan pinjaman melalui pelaku bisa mudah jika tidak ada keterlibatan pihak bank, tidak seperti pengajuan pada umumnya. Ada sistem dalam proses pengajuan pinjaman yang dilanggar oleh oknum bank bersama dengan pelaku. Selain itu, kecurigaan itu muncul karena pinjaman warga dilayani oleh Bank BRI Unit Kebon Roek Ampenan. Padahal, Bank BRI Cabang Gerung masih mampu memberikan pelayanan pinjaman.

“Dari pengakuan para korban yang minjam, mereka hanya dengan menyodorkan foto copy e-KTP, KK dan anggunan, beberapa hari ke depan dana pinjamannya bisa cair,” curiganya.

Dibeberkan, dari hasil investigasi sementara AMPES Lobar juga bahwa, dana tabungan yang pernah disetor Herawati ke terduga pelaku sekitar Rp. 335 juta. Sedangkan untuk deposito yang diurus oleh Baiq Seri di Desa Jembatan Kembar Timur, jumlahnya sekitar Rp. 464 juta.

Adapun modus operandinya kata dia, cukup rapi dan tak diduga warga. Dimana, ketika warga mengajukan pinjaman yang disertai anggunan, terduga pelaku ikut nebeng minjam. Seperti contoh, ketika warga mengajukan pinjaman Rp. 25 juta, terduga pelaku ikut nebeng ngutang Rp. 25 juta. Sehingga total pinjaman sebanyak Rp. 50 juta. Setelah pencairan dan proses setoran, awalnya lancar saja tapi pelaku tidak pernah memberikan buku rekening ke warga. Namun menjelang kasus ini terungkap, buku rekening itu buru-buru dibagi ke warga.

Tak hanya itu, saat ini ada puluhan warga yang beberapa pekan lalu sudah mengajukan pinjaman melalui IAWK dengan menyerahkan jaminan sertifikat lahan dan syarat lainnya. Akan tetapi, kedok ini keburu terbongkar dan terduga pelaku hilang, jaminan warga juga tak jelas tempatnya.

“Kami dari lembaga juga mohon saudara-saudara dari desa untuk membantu menyelesaikan persoalan ini. Jangan sampai masyarakat ribut di bawah saling menyalahkan,” pinta Haetami.

Sementara itu, salah satu karyawan Bank BRI Unit Kebon Roek Baiq Diana Devita ketika dikonfirmasi terkait dugaan warga jika ada oknum Bank BRI yang diduga terlibat dalam kasus penipuan ini mengaku, jika dirinya tidak bisa menjelaskan secara rinci terkait persoalan yang bergulir di warga itu. Karena ia hanya sebagai karyawan dan ada pimpinan yang berhak mengklarifikasi secara utuh. Namun demikian, apa yang menjadi dugaan warga dan rekan-rekan lembaga tidak benar adanya. Karena untuk diketahui, proses pengajuan pinjaman di bank itu tidak seperti pengakuan warga. Berkas yang diajukan debitur ke bank, butuh kajian lama dari pimpinan baru kemudian di verifikasi faktual di bawah melalui survey anggunan. Setelah itu juga, butuh waktu lama lagi untuk ke tahap pencairan. 

“Intinya kami dari Bank BRI tidak seperti apa yang jadi dugaan rekan-rekan,” bantahnya.

Sementara terkait kenapa pihaknya melayani pengajuan pinjaman warga di sini dan kenapa tidak dihandle BRI Cabang Gerung saja, diakunya itu sah-sah saja. Apalagi diakuinya, ada salah satu rekannya di BRI Kebon Roek sekarang, merupakan mantan karyawan BRI Cabang Gerung atas nama Sahabudin. Sehingga pengajuan pinjaman warga dari sini bisa dilayani.

“Selebihnya seperti apa pola survey dan kenapa cepat sekali dicairkan, itu saya tidak tahu pak,” ujarnya di kantor desa yang kebetulan sebelumnya sedang mendampingi tim audit bank dari Korwil Bali Nusra untuk mengaudit para nasabah yang diduga bermasalah tersebut, Rabu (6/10).

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Diskop dan UKM) Lobar, HM. Fajar Taufik yang dikonfirmasi awak media terkait adanya koperasi yang menjalankan usaha deposito, tabungan dan pinjaman di wilayah Lobar dalam hal ini Koperasi Cahaya Agung menjelaskan, bahwa setelah di Cek di aplikasi Online Data System (ODS), ternyata koperasi tersebut tidak terdaftar dan diduga Bodong.

Untuk menyikapi keresahan masyarakat, pihaknya pun akan segera membentuk tim untuk turun cek lapangan. Ia pun mengimbau  kepada masyarakat agar jangan mudah tergiur oleh koperasi mana pun yang menjanjikan suku bunga yang tinggi dan pelayanan cepat.

“Dugaan sementara kami, Koperasi Cahaya Agung ini bodong sebab tidak terdaftar di Dinas Koperasi  dan UKM Lobar dan Dinas Koperasi Kota Mataram,” tegas Kadis, Senin (4/10) lalu.

“Kalau mau tahu koperasi itu bodong atau resmi, cek dulu legalitasnya apakah resmi atau tidak. Jika menemukan dan mengetahui ada kegiatan Koperasi yang mencurigakan, segera laporkan ke kami,” sambungnya.

Sementara itu, IAWK yang berusaha di konfirmasi media di rumahnya, yang bersangkutan tidak ada ditempat. Awak media juga berusaha mengkonfirmasi lewat telepon genggamnya dan WhatsApp pribadinya, juga tidak aktif.

“Ibu tidak ada di tempat mas,” kata salah satu anaknya ketika ditemui di rumahnya di BTN Reyan Indah, Kelurahan Gerung Selatan, Kecamatan Gerung, Lobar, Senin (6/10). (TP-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *