Pembangunan

Tak Diakomodir Perusahaan, Sopir Dum Truck Kuta Nyaris Blokir Jalan

Seorang sopir dum truck lokal asal Desa Kuta saat berusaha menyetop mobil tronton yang mau mengangkut material timbunan di Sirkuit MotoGP sebelum mediasi, Rabu (18/8).

LOMBOK TENGAH (NTB),Tatrapost.com Puluhan sopir Dum Truck di Desa Kuta yang tergabung dalam Asosiasi Sopir Dum Truck (ASDT) Kecamatan Pujut nyaris melakukan pemblokiran jalan menuju proyek Sirkuit Mandalika, Rabu (28/8). Tepatnya di Timur Bundaran Triputri atau Utaranya Masjid Nurul Bilad Kuta Mandalika.

Rencana pemblokiran tersebut dilakukan karena mereka kecewa kepada pihak PT. Bunga Raya Lestari (BRL) selaku perusahaan yang mengerjakan Sirkuit MotoGP yang tidak memberdayakan Dum Truck lokal sebagai kendaraan pengangkut material timbunan.

Namun, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan dari hasil komunikasi dengan Polsek Kuta, sopir dum yang didampingi Solidaritas Warga Inter Mandalika (SWIM) memilih jalur mediasi di Mapolsek setempat.

Muhadi, salah satu sopir dum truck asal Desa Kuta mengaku, sangat menyayangkan kebijakan yang ditelurkan oleh PT. BRL yang tidak menggunakan dum truck lokal sebagai armada pengangkut material timbunan ke sirkuit. Padahal di Kuta saja ada sekitar 50 puluhan sopir dum truck dan sanggup dilibatkan.

Memang, beberapa bulan lalu perusahaan pernah mengakomodir dum lokal. Namun karena ada kebijakan pembayaran yang sangat memberatkan para sopir, akhirnya kerjasama itu berakhir. Dimana, perusahaan dalam hal ini pengesup akan tetap menggunakan dum lokal dengan catatan harus mau dihutang seminggu. Saat itu, pihaknya setuju saja asalkan harga per dum material,. dinaikkan. Itu dipilih agar para sopir tidak merugi. Jangan kemudian sudah harga rendah, dihutang pula.

“Kita rugi kalau pakai harga tetap, dihutang lagi. Untuk itu, mohon kiranya aspirasi kami ini disampaikan pak Kapolsek dan rekan-rekan sub kontraktor (Subkon) kepada pihak perusahaan,” pinta Amaq Ari di hadapan Kapolsek dan beberapa Subkon.

Adanya niatan mau memblokir jalan terbesit dibenak para sopir karena apa yang menjadi harapan dan keinginannya mau diberdayakan tidak pernah didengar oleh perusahaan. Jangan sampai pihaknya hanya sebagai penonton saja di wilayahnya sendiri. Dan juga, sudah cukup lama armada tronton melangkahi kepentingan para sopir. Sudah tiga bulan lamanya mereka mengganti posisi dum lokal ke tronton.

“Pihak BRL sama sekali tidak pernah mau komunikasi dengan kita. Kami hanya komunikasi dengan para Subkon tapi mereka kan tidak bisa berbuat apa-apa kalau tidak atas perintah perusahaan,” ujarnya.

Demikian juga dikeluhkan Ketua Karang Taruna Desa Kuta Ainu Jaya Putra yang juga hadir dalam mediasi tersebut. Diakuinya, bahwa selama ini memang perusahaan yang mengerjakan sirkuit, minim menggunakan tenaga lokal. Mestinya, jika mereka memiliki etikad baik, seharusnya lebih memberdayakan masyarakat lokal dan warga terdampak pembangunan untuk bekerja di dalam. Bukan malah sebaliknya seperti ini.

“Beberapa hari lalu kami di desa juga sudah bersurat ke ITDC dan perusahaan dengan meminta agar warga lokal diberdayakan termasuk saudara kami sopir dum truck. Tapi tidak pernah mau didengar,” kesalnya.

Kadus Ujung Lauk, Abdul Mutalip juga berpandangan sama. Katanya, secara umum BRL selaku perusahaan yang bertanggung jawab atas pengerjaan proyek sirkuit, kurang respons terhadap keluhan masyarakat. Mestinya, perusahaan milik Bambang Koko ini mengakomodir apa yang menjadi keluhan dan keinginan masyarakat. Karena aspirasi ini sudah terlalu lama disampaikan bahkan sebelum pembangunan sirkuit dimulai.

Ketika warga hearing dan menuntut, perusahaan juga tidak pernah menggubrisnya dan tidak kooperatif. Mereka seperti mau menang sendiri di wilayah orang lain.

“Ini yang membuat kami selama ini geram, wajar kami bertingkah aneh-aneh sampai mau memblokir jalan,” sebutnya.

“Sebenarnya begini pak Kapolsek, terkait ini semua yang kita harapkan bagaimana perusahaan mendengar aspirasi rekan-rekan sopir. Ini sudah lama kami suarakan, kok tidak pernah mau didengar,” sambung Kedim Marzuki Yahya, salah satu pengurus SWIM.

Para sopir dum truck lokal, para Subkon, dari SWIM, Pemdes Kuta dan Polsek saat mediasi di Mapolsek setempat.

Dalam mediasi ini, yang terpenting sebenarnya yakni bagaimana aspirasi para sopir ini bisa disampaikan oleh rekan-rekan Subkon yang hadir kepada Subkon yang lainnya. Karena mohon maaf, ia menduga munculnya gejolak seperti ini karena ada permainan yang dimainkan oleh pihak BRL. Sebab, dulunya para sopir sudah bekerja dengan lancar dan aman-aman saja bekerja. Tapi di tengah jalan, malah pihak BRL mengeluarkan aturan baru sehingga mengakibatkan sopir lokal hengkang. Dalam kesempatan itu, mereka malah memilih armada tronton sebagai armada angkut material.

“Saat ini jika ada etikad baik, pihak BRL mestinya hadir dalam mediasi. Biar jelas apa jawaban mereka dan seperti apa solusi dari pertemuan ini, tidak bisa hanya diwakili rekan-rekan Subkon karena Subkon juga bisa dibilang sebagai korban,” ungkapnya.

Untuk diketahui lanjutnya, tujuan SWIM hadir dalam mediasi ini untuk menjembatani apa yang menjadi keluhan para sopir dum truck lokal di Desa Kuta yang jumlahnya sekitar 50 orang. Termasuk juga menjembatani para Subkon yang sampai saat ini ada yang belum dibayar oleh perusahaan.

“Makanya kami berharap agar persoalan ini ada solusi dan diselesaikan secara kekeluargaan. Mereka ini bagian dari keluarga kami masyarakat Kecamatan Pujut,” tegasnya.

Senada dengan Kedim, Direktur SWIM Lalu Alamin juga menyampaikan apa yang selama ini belum berpihak pada warga lokal KEK dalam proses pembangunan sirkuit. Pihaknya melihat persoalan sopir dengan Subkon ini terjadi karena ada pihak yang sengaja mengadu domba mereka dengan tujuan tertentu. Padahal antara sopir dum truck dan Subkon sama-sama orang lokal.

Selama ini juga, apa yang menjadi aspirasi sopir sering disampaikan oleh para Subkon ke perusahaan. Tapi aspirasi itu dianggap angin lalu dan tidak pernah digubris.

Penggunaan armada tronton dengan mengabaikan dum truck untuk mengangkut material sirkuit, menjadi jawaban bahwa BRL tidak serius memberdayakan sumber daya masyarakat lokal. Kondisi ini sangat disayangkan terjadi di tengah keterpurukan perekonomian masyarakat yang ada di kawasan inti pembangunan KEK Mandalika. Oleh karena itu, pihaknya mendesak agar apa yang menjadi aspirasi sopir dum itu segera direalisasikan. Bila perlu hari ini mohon distop pendistribusian material dan mulai besok pagi dum lokal dilibatkan.

“Selama ini, ada banyak kebijakan perusahaan yang bekerja di KEK ini tidak mau memberdayakan masyarakat lokal. Nasi bungkus untuk pekerja sirkuit saja dibeli dari luar Kuta bahkan luar Lombok Tengah,” tuturnya.

Menanggapi apa yang dituntut SWIM dan para sopir dum, salah satu Subkon material Sirkuit MotoGP, Lalu Arta mengaku, bahwa pihaknya tidak bisa berbuat banyak untuk merealisasikan apa yang menjadi tuntutan rekan-rekan sopir. Karena kewenangannya terbatas dan bekerja di bawah perusahaan.

Malahan aku Mik Arta, ia sebagai Subkon juga ada yang belum dibayar. Karenanya, jika apa yang menjadi tuntutan sopir mau direalisasikan, tentu ada prosedur dan tahapan yang akan dilakukan, agar dirinya tidak merugi. Karena bagaimanapun, ia bekerja sebagai Subkon memiliki modal dan modal itu tidak serta merta cash ia punya melainkan juga ngutang. Sehingga, jika dum lokal mau diakomodir, pihaknya harus melakukan persiapan-persiapan. Seperti persiapan kuari (lokasi galian), alat berat dan lainnya.

“Makanya kami siap akomodir apa yang menjadi aspirasi rekan-rekan sopir setelah berkoordinasi dengan Subkon yang lain dan perusahaan agar tidak terjadi ketimpangan. Tapi Insya Allah Senen pekan depan dum lokal kami mulai libatkan dan tidak dihutang seperti kebijakan dulu. Kalau tidak, kami siap distop,” janjinya.

“Kalau rekan-rekan mau minta distop hari ini dan mulai besok pagi menggunakan dum lokal, kami tidak mungkin sanggup. Karena sekali pagi kami perlu musyawarah dengan teman-teman Subkon yang lain, tidak semudah apa yang menjadi harapan bapak,” sambung pria asal Dusun Lenser Desa Kuta ini.

“Saya sih tidak masalah hari ini distop karena sopir dum truck lokal saudara-saudara saya. Karena rekan-rekan saya bisa kerja di sirkuit, biar tidak menjadi kecurigaan maksud saya. Tapi itu tadi, karena belum ada jawaban dari perusahaan jadi masalahnya,” tambah Lalu Sudirman, salah satu Subkon asal Dusun Mong Desa Kuta.

Diakuinya, jika dirinya juga punya uang di perusahaan. Karena sampai saat ini ada pembayaran yang belum diberikan. Pihaknya sudah lama dijanjikan untuk pembayaran, tapi belum terealisasi. Demikian juga, aspirasi sopir lokal untuk dilibatkan juga sudah disampaikan namun belum ada jawaban. Itu ia sampaikan sebagai bentuk solidaritas antar sesama warga lokal yang ingin dilibatkan bekerja di KEK.

“Tapi nanti kita bahas setelah mediasi, semoga apa yang menjadi harapan kita semua ada solusi,” harapnya.

Sementara itu, Kapolsek Kuta AKP I MD Dimas Widyantara mengutarakan, jika dirinya sudah berkomunikasi dengan salah satu pihak di BRL terkait persoalan ini. Namun dari penyampaiannya, beliau tidak bisa memutuskan sendiri karena keputusan tertinggi itu di pimpinan utama perusahaan. Namun kendati begitu, jika disetujui pihaknya siap memfasilitasi rekan-rekan sopir untuk penyampaian aspirasinya langsung dengan pihak perusahaan. Tapi nanti caranya diwakili oleh beberapa orang. Biar apa yang menjadi mau disampaikan terarah, jelas dan detile.

Pihak perusahaan akan mencatat apa saja yang menjadi keluhan rekan-rekan, baik sopir maupun para pengesup. Terkait harinya kapan, hingga kini belum diketahuinya. Namun demikian, ia menyarankan agar kedua belah pihak bertemu untuk membahasnya di internal. Sebab menurutnya kalianlah yang selama ini bersentuhan dalam kontrak kerja, bukan sepenuhnya pihak pengambil keputusan di perusahan langsung.

“Kami tidak mau pemblokiran itu terjadi, makanya nanti kita fasilitasi dengan perusahaan tapi alangkah baiknya bertemu dulu antara para Subkon dan sopir,” pintanya.

Dikatakan Kapolsek yang baru menjabat sebulan lebih ini bahwa, dari Polsek sejak awal selalu mengimbau agar masyarakat bersama-sama menjaga Kamtibmas. Jangan sedikit-dikit mau memblokir jalan yang mana dampaknya bisa merusak citra masyarakat Kuta dan Pariwisata Indonesia. Apalagi persoalan tersebut menurutnya ada solusi dan bisa dikomunikasikan terlebih dahulu.

“Tidak bisa dilakukan pemblokiran jalan atas dasar tidak dilibatkan jadi pengangkut material. Kami tidak pandang bulu dan pasti akan kami tindak kalau ada yang seperti itu,” tegas AKP Dimas di hadapan para sopir dan Subkon proyek Sirkuit MotoGP.

“Nanti sore kami akan bertemu dengan para Subkon dan para sopir pak Kapolsek, Insya Allah akan ada kesepakatan bersama untuk kemudian menyetujui bahwa Senin depan murni dum truck lokal dipakai dan tidak dihutang,” tutup Direktur SWIM Lalu Alamin menanggapi harpaan Kapolsek. (TP-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *